Keris Dhapur Sengkelat
| Stok | Habis |
| Kategori | Keris Pusaka Kamardikan, Keris Pusaka Kuno, Keris Pusaka Luk 13 |
Keris Dhapur Sengkelat
Keris Dhapur Sengkelat
Keris sengkelat ada yang menyebutnya Sangkelat, adalah salah satu bentuk dhapur luk tiga belas. Keris dhapur Sangkelat mudah dijumpai karena banyak jumlahnya dan salah satu dhapur klangenan yang dianggap wajib dimiliki oleh Pecinta Tosan Aji. Selain keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat milik Keraton Kasunanan Surakarta, ada beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sangkelat. Keris-keris itu adalah KK Laken Manik, KK Naga Puspita, KK Tejokusumo.
Filosofi, keris sengkelat berluk tiga belas. Angka tiga belas dalam khasanah jawa sebagai las-lasaning urip, akhir kehidupan. Kemana manusia setelah mati? kemana kalau tidak bersatu dengan Allah kembali. Itulah pakem dhapur keris luk yang disebut sebagai “Mustikaning manembah – intisari bersujud”. Ada pemahaman lain bahwa lekuk tiga belas juga mempunyai arti tri welas; welas ing sesami, welas ing sato iwen, lan welas ing tetuwuhan. Semua ini diarahkan kepada keselarasan antara Aku manusia – alam dan lingkungannya serta Allah.
Adapun angka 13 dalam tradisi jawa juga dianggap sebagai angka keramat. Angka 13 kadang oleh sebagian orang adalah angka pembawa sial, namun demikian angka ini juga dipercaya sebagai penolak bala, angka tiga belas merupakan angka 1 dan angka 3, keduanya merupakan angka ganjil yang penuh makna. Angka 1 merupakan angka pertama, memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang mencerimkan Ketuhanan. Sedangkan angka 3 merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan. Angka 3 adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara hidup. Misalnya; Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali, yakni waktu, ucapan dan kesempatan. Maka hendaknya dijaga supaya tidak ada sesal kemudian. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu, yakni rejeki, umur dan jodoh, mintalah pada Tuhan dan terakhir ada 3 hal dalam hidup yang pasti, adalah tua, sakit dan mati, persiapkanlah dengan sebaik-baiknya karena jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.
Cerita Keris Sengkelat
Kita semua tentunya pernah mendengar tentang sebuah kerajaan besar (imperium) nusantara yakni Majapahit. Zaman keemasan Majapahit melekat erat pada pemerintahan Rajanya keempat, Hayam Wuruk. Bersama Patihnya Gajah Mada membangun Majapahit menuju puncak kejayaan berdasarkan falsafah kenegaraan “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”. Namun takdir berkata lain, dalam usia senjanya Majapahit bukan lagi sang surya yang memancarkan kebesaran dan keagungan bagi manusia. Surya Majapahit telah meredup dan tenggelam ke dasar samudera kelam. Kesucian dan keluhuran yang pernah dicita-citakan seolah telah pudar dan kehilangan makna. Kebesaran, keagungan, kemuliaan dan kehormatan yang pernah menjadi kebanggaan beratus tahun tiba-tiba menjadi asing tak dikenal lagi tercabik oleh berbagai intrik. Majapahit perlahan-lahan tetapi pasti telah meranggas, keropos, membusuk dan akhirnya tumbang. Jatuhnya Majapahit ini ditandai dengan Sengkalan, Sirna Ilang Kertaning Bumi (tahun 1400 saka).
Dalam kehidupan bernegara di Majapahit, kerajaan tersebut terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, keluarga bangsawan dan orang-orang kaya, serta golongan bawah yang terdiri dari rakyat jelata. Perbedaan dan perselisihan di antara kedua golongan ini begitu besar sehingga mengancam persatuan dan kesatuan Majapahit ketika itu. Untuk mengatasi masalah ini, konon dipanggilah sekitar seratus orang Empu (orang bijak, pembuat keris) untuk membuat satu keris sakti. Keris istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. Kata “condong” dalam bahasa Jawa kuno (yang mungkin sudah diserap menjadi bahasa Indonesia) berarti “cenderung/lebih mendekati/mengarah pada…”. Sementara “campur” berarti “menjadi satu” atau “persatuan”. Dengan demikian, arti nama keris ini kurang lebih adalah “pembawa persatuan”.
Pada masa itu, setiap golongan memiliki keris yang menjadi simbol golongan mereka. Golongan Atas memiliki keris pusaka yang bernama Keris Sabuk Inten (nama yang berarti “ikat pinggang permata/intan”) dan golongan bawah memiliki keris pusaka bernama Keris Sengkelat. Nama “sengkelat” diyakin berasal kari kata-kata Jawa “sengkel atine” yang berarti “hati yang berat/lelah/kecewa”, dikaitkan dengan kondisi hati masyarakat kelas bawah yang penuh kekecewaan atas kondisi kehidupan mereka yang berat. Masyarakat Majapahit (dan masih diyakini oleh masyarakat Jawa masa kini) meyakini bahwa setiap keris pusaka memiliki kekuatan spiritual dan supernatural, bahkan memiliki karakter dan kecocokannya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan keris Kyai Condong Campur. Keris tersebut diharapkan memiliki karakter pemersatu, namun betapa terkejutnya para Empu pembuat keris ketika mengetahui bahwa Kyai Condong Campur memilki karakter yang jahat dan bernafsu ingin menguasai.
Keris Sabuk Inten merasa terancam dengan kehadiran Keris Kyai Condong Campur, menantang Keris Kyai Condong Campur untuk bertarung. Setelah melalui pertarungan yang sengit, Keris Sabuk Inten dapat dikalahkan. Mengetahui karakter jahat Keris Kyai Condong Campur, Keris Sengkelat akhirnya terpaksa turun gunung untuk bertarung melawan Kyai Condong Campur. Di luar dugaan, Keris Sengkelat berhasil mengalahkan Kyai Condong Campur yang terkenal sakti. Keris Kyai Condong Campur sangat murka karena kekalahannya. Dalam kemarahannya Keris Kyai Condong Campur bersumpah bahwa ia akan kembali setiap 500 tahun untuk membawa ontran-ontran (bahasa Jawa, yang berarti “kekacauan/bencana”) ke tanah Jawa. Setelah mengucapkan sumpahnya, Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya terang. Inilah yang dikenal orang Jawa/Majapahit sebagai Lintang Kemukus, bintang berekor. Mungkin inilah sebabnya masyarakat Jawa hingga saat ini masih percaya bahwa penampakan komet di langit adalah pertanda akan adanya bencana.
Kisah tersebut di atas bisa jadi hanya sebuah legenda atau mitos. Namun entah hanya karena kebetulan semata atau kesengajaan dalam sisi lain terdapat kebenaran makna atau simbol. Sengkelat adalah simbol perjuangan wong cilik (mereka yang tidak berketurunan atau berdarah priyayi) ketika Sang Surya Majapahit mulai meredup. Sengkelat tak ubahnya seperti Tokoh Pewayangan Semar, sebagai pamomong. Dalam lakon apa saja, Semar selalu hadir. Dalam lakon Semar Mbangun Kahyangan, dia menjadi tokoh sentral yang memimpin berjuangan melawan kebatilan. Ketika bathara Guru dianggap tidak pecus memimpin Kahyangan Junggring Salaka, Semar baru turun tangan. Tokoh ini juga sering muncul sebagai sebuah ironi kepemimpinan, misalkan dalam lakon Resi Dandang Seta. Semar berubah wujud menjadi seekor burung raksasa, yang mengalahkan para satria. Tindakan itu dilakukan, karena Semar hendak mengingatkan pada bendara yang dianggap telah lancing, yaitu Arjuna. Arjuna dianggap pernah berbuat tidak sopan pada Semar. Maka Semar berupaya mengingatkan, agar Sang Ksatriya itu kembali ke jalan lurus
Tags: ciri keris sengkelat, Keris Dhapur Sengkelat, keris sengkelat sepuh, khasiat keris sengkelat, khodam keris kyai sengkelat
Keris Dhapur Sengkelat
| Berat | 300 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 564 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Produk Terkait
Keris Dhapur Mangkurat Keris Dhapur Mangkurat – Ricikan Dhapur Keris Mangkurat: Sekar Kacang Pogok, Jenggot, Jalen, Lambe Gajah Kalih, Tikel Alis, Sraweyan, Greneng. FILOSOFI Mangkurat Mangkunagara adalah salah satu nama dhapur keris yang ‘abot sanggane’ (berat bawannya). Karena sebagai pusaka keris dianggap ‘hidup’ tak hanya karena daya gaibnya saja, tetapi dikarenakan pula oleh adanya nilai-nilai… selengkapnya
Mahar Hubungi AdminKeris Pusaka Nogo Sosro Kuno Keris Pusaka Nogo Sosro Kuno adalah jenis keris pusaka yang banyak diburu dan dicari. Keris pusaka nogo sosro atau sering disebut naga sasra ini memiliki aura wibawa yang terpancar kuat. Keris Naga sasra yang kuno cukup sulit ditemukan karena pada jaman dahulu keris berdhapur nogo sosro hanya dimiliki oleh bangsawan… selengkapnya
Rp 35.000.000Keris Udan Mas Tiban Sepuh Keris Udan Mas Tiban Sepuh dipercaya memiliki tuah untuk mendatangkan kekayaan. Pusaka ini di katakan sebagai ibu dari segala pamor kerejekian, dan jika di amati pola tuahnya bukan lagi kerejekian melainkan sudah pada tingkat kekayaan. Pamor udan mas tiban memang tercipta dari restu alam, karena terbentuk atas restu dan izin… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Singo Barong Keris Singo Barong adalah salah satu jenis keris yang juga memiliki makna dan nilai kultural dalam budaya Jawa dan Indonesia. Keris Singo Barong secara harfiah dapat diartikan sebagai “Keris Singa Barong.” Nama ini mengacu pada motif atau hiasan khas yang ada pada keris ini. Motif Singa Barong pada keris ini adalah gambaran… selengkapnya
Mahar Hubungi AdminKeris Pamor Sum Sum Buron Keris Pamor Sumsum Buron adalah salah satu keris yang sudah jarang ditemui. Mengingat pamor ini adalah pamor yang langka, sehingga membuat sebuah keris dengan pamor sumsum buron bernilai tinggi. Bentuk gambaran pamor sumsum buron juga mirip Wos Wutah gumpalan juga terpisah agak berjauhan seperti Pulo Tirto hanya agak lebih besar… selengkapnya
Mahar Hubungi AdminKeris Pamor Wos Wutah Keris Pamor Wos Wutah atau Beras Wutah adalah salah satu jenis pamor pada bilah keris yang paling banyak dijumpai. Bentuknya tidak teratur tetapi tetap indah dan umumnya tersebar dipermukaan bilah. Ada yang berpendapat pamor ini pamor gagal, saat si empu ingin membuat sesuatu pamor tetapi gagal maka jadilah Wos Wutah. Tetapi… selengkapnya
Mahar Hubungi AdminKeris Pamor Janur Sinebit Keris Pamor Janur Sinebit merupakan pamor yang cukup langka dan banyak dicari. Sekilas pamor janur sinebit hampir mirip dengan pamor gajah gelar yang membedakan pamor janur sinebit pola garisnya berkumpul ditengah. Keris dengan pamor janur sinebit memiliki pesan yang sangat mendalam sehingga diburu untuk dijadikan pusaka andalan atau ageman pribadi. Pamor… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Sepuh Keris sepuh adalah jenis senjata tradisional khas Indonesia yang memiliki nilai historis, budaya, dan seni yang tinggi. Keris ini terbuat dari logam, seperti besi atau baja, yang telah dilebur dan dicetak dengan berbagai motif dan desain yang indah. Proses pembuatan keris sepuh melibatkan teknik-teknik khusus yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keris adalah… selengkapnya
Mahar Hubungi AdminKeris Kamardikan Keris Kamardikan adalah senjata tradisional yang berasal dari Indonesia. Keris merupakan sejenis pisau atau belati dengan bilah berombak khas yang disebut “pamor.” Pamor pada keris sering kali memiliki nilai seni dan spiritual yang tinggi, dan pembuatan keris adalah suatu seni yang telah ada selama berabad-abad. Keris Kamardikan biasanya dibuat oleh pandai keris, yang… selengkapnya
Mahar Hubungi AdminKeris Sengkelat Mataram Amangkurat Keris Sengkelat Mataram Amangkurat dipercaya memiliki tuah kepemipinan dan kewibawaan bahkan beberapa orang meyakini keris sengkelat adalah tandingan dari keris paling sakti di tanah Jawa yaitu Naga Sasra. Ketika seseorang mencari pusaka andalan dengan tuah yang baik dalam urusan kepemimpinan, keris ini menjadi alternatif pertama yang layak menjadi pusaka piyandel. Pamor… selengkapnya
Rp 5.000.000



Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.